katalogpenuliskronikbengkel sahifahkilasan bukuguestbook
 

Wawasan Islam


Penerbit Zaman, 29-Juni-2009
Israk Mikraj

Nabi terbiasa pergi ke Ka‘bah pada malam hari. Beliau berdiri di sana untuk salat selama beberapa lama. Suatu malam, beliau tiba-tiba merasa sangat lelah dan sulit membuka mata.[1] Maka, beliau berbaring di dekat Ka‘bah dan tertidur.

Nabi menuturkan bahwa Malaikat Jibril kemudian menghampirinya. Jibril menggoyangkan tubuhnya dua kali untuk membangunkannya, tapi beliau tetap terlelap; malaikat itu kembali mengoyangkan tubuhnya, dan akhirnya beliau terbangun. Jibril membawanya ke pintu masjid, tempat seekor hewan putih (terlihat seperti persilangan antara kuda dan keledai, tapi bersayap) sedang menunggu mereka. Beliau menaiki hewan yang bernama al-Buraq itu dan pergi bersama Jibril menuju Yerusalem. Di sana Muhammad bertemu dengan sejumlah Nabi yang diutus sebelum dirinya (Ibrahim, Musa, dan lainnya), dan beliau memimpin mereka salat di Kuil. Selepas salat, Nabi dan Jibril diangkat menembus ruang dan waktu. Di tengah perjalanannya menembus tujuh lapis langit, beliau kembali bertemu dengan sejumlah Nabi. Penglihatannya dipenuhi dengan gambaran surga dengan segala keindahan cakrawalanya. Akhirnya beliau tiba di Tempat Tertinggi (Sidrat al-Muntahâ). Di sinilah Nabi menerima perintah salat lima waktu dan wahyu yang menetapkan prinsip-prinsip keimanan Islam (al-‘aqîdah).[2]
    Rasul telah beriman kepada Alquran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. [Mereka mengatakan] Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun dari rasul-rasul-Nya. Dan mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami taat: Ampunilah kami ya Tuhan kami dan hanya kepada Engkau tempat kembali.” [3]
Muhammad dibawa kembali ke Yerusalem oleh Malaikat Jibril dan al-Buraq, dan dari sana menuju Mekah. Dalam perjalanan pulang, beliau melihat beberapa kafilah dagang yang juga hendak menuju Mekah. Masih larut malam ketika mereka tiba di dekat Ka‘bah. Malaikat dan al-Buraq pergi, dan Muhammad bergegas ke rumah Umm Hani, salah seorang sahabat yang paling dipercaya. Beliau menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya, dan Umm Hani menyarankan Nabi agar tidak menceritakannya kepada siapa pun. Namun Nabi menolak sarannya. Belakangan, Alquran menuturkan pengalaman ini dalam dua bagian berbeda. Yang pertama dalam surah al-Isrâ’ (Perjalanan Malam), yang secara langsung merujuk peristiwa tersebut:
    Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.[4]
Dan yang kedua dalam surah al-Najm (Bintang):
    Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya, yang diajarkan kepadanya oleh Jibril yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas; dan ia menampakkan dirinya dalam rupanya yang asli, sedang ia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian ia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah ia sedekat dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Lalu ia menyampaikan kepada hamba-Nya apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya. Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu pada waktu yang lain, yaitu di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda kekuasaan Tuhannya yang paling besar.[5]
Perjalanan Malam (Isra) dan naik ke langit (Mikraj) itu melahirkan berbagai tafsir, baik ketika Nabi mengisahkan kejadian itu maupun saat ini di kalangan ulama. Ketika Muhammad pergi ke Ka‘bah dan menceritakan pengalamannya, ejekan, tawa, dan hinaan segera bermunculan. Orang Quraisy percaya bahwa akhirnya mereka memiliki bukti bahwa orang yang mengaku nabi ini sesungguhnya orang gila, karena ia telah berani mengklaim telah melakukan perjalanan ke Yerusalem dalam satu malam (yang biasanya membutuhkan waktu selama beberapa minggu), dan lebih dari itu, juga telah dibawa ke hadapan Tuhannya Yang Maha Esa. Kegilaannya tampak nyata.

Pengalaman Isra, yang diceritakan dalam kitab-kitab klasik tentang kehidupan Nabi sebagai sebuah hadiah dari Tuhan dan penobatan untuk Rasul pilihan (al-Mushthafâ), merupakan cobaan nyata bagi Muhammad dan para pengikutnya. Ia menandai garis pembatas antara orang beriman yang keimanannya dibuktikan dengan kepercayaan mereka pada Nabi dan misinya, dan orang lain yang dibuat terperanjat oleh kemustahilan cerita semacam itu. Seorang utusan Quraisy pergi menemui Abu Bakr dan menanyakan pendapatnya tentang temannya yang gila dan konyol itu, tapi jawabannya yang langsung dan terang-terangan mengejutkan mereka: “Jika ia berkata seperti itu, hal itu tidak lain kecuali sebuah kebenaran.” Keimanan dan kepercayaan Abu Bakr begitu besar sehingga ia sedikit pun tidak terguncang. Setelah itu ia langsung menemui Nabi dan menanyakan hal itu, yang Nabi kemudian membenarkannya; lalu Abu Bakr dengan tegas mengatakan, “Aku percaya padamu, engkau selalu berkata benar.”[6] Sejak saat itu, Nabi memanggil Abu Bakr dengan julukannya, al-Shiddîq (orang yang dipercaya, yang meneguhi kebenaran).

Ujian dari peristiwa Perjalanan Malam Nabi bagi para pengikutnya terjadi saat mereka sedang berjuang menghadapi situasi yang sangat berat. Diriwayatkan, beberapa orang keluar dari Islam, tapi kebanyakan tetap percaya pada Nabi. Beberapa minggu kemudian, berbagai fakta membuktikan kebenaran beberapa bagian cerita Nabi, misalnya tibanya kafilah dagang yang kedatangannya telah Nabi sebutkan (setelah melihat mereka dalam perjalanan pulang) dan telah beliau gambarkan ciri-cirinya dengan tepat. Berkat kekuatan iman mereka, komunitas Islam ini mampu menghadapi kesulitan di belakang hari. Sejak saat itu, Umar ibn al-Khaththab dan Abu Bakr selalu berdiri di depan komunitas spiritual ini.

Sejak awal, ulama telah mendiskusikan pertanyaan seputar Isra Mikraj Nabi, apakah ia hanya bersifat spiritual atau juga menyertakan fisik Nabi. Sebagian besar memandang perjalanan tersebut bersifat fisik dan spiritual sekaligus. Namun, setelah mempertimbangkan semua hal, pertanyaan itu tidaklah penting dibandingkan sejumlah pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman luar biasa yang dialami Nabi. Yang pertama, tentu saja, adalah posisi sentral kota Yerusalem: pada saat itu, Nabi salat menghadap ke kota suci itu (kiblat, arah salat, pertama) dan, selama Perjalanan Malam, di Kuil yang ada di tempat itulah beliau mengimami salat berjamaah dengan semua nabi. Yerusalem menjadi inti kisah perjalanan tersebut dan menyiratkan sebuah simbol ganda berupa sentralitas (sebagai arah salat) dan keuniversalan (tempat salat para nabi). Belakangan, di Madinah, kiblat berubah—dari Yerusalem ke Ka‘bah—untuk membedakan Islam dari paham keyahudian, tapi hal ini bukan berarti mengecilkan status Yerusalem, dan dalam ayat tersebut di atas, berbagai rujukan tentang “masjid paling suci” (Ka‘bah di Mekah) dan “mesjid terjauh” (al-Aqsa di Yerusalem) telah membentuk sebuah hubungan spiritual dan sakral antara kedua kota itu.

Pelajaran lainnya terkait dengan hakikat spiritual: semua wahyu diterima Nabi dalam lingkup pengalaman duniawinya, kecuali, seperti yang telah kita lihat, wahyu tentang rukun iman dan kewajiban salat. Nabi diangkat ke langit untuk menerima ajaran-ajaran yang akan menjadi landasan keimanan dan ritual Islam (al-‘aqîdah dan al-‘ibâdah), yang menuntut kaum beriman untuk menerima bentuk dan substansinya sekaligus.[7] Berbeda dengan bidang sosial (al-mu‘âmalah) yang menuntut kreativitas akal dan kecerdasan manusia, di sini rasio manusia harus tunduk, atas nama keimanan dan kerendahan hati, pada perintah wahyu: Tuhan telah menentukan berbagai syarat dan norma yang harus didengar dan dilaksanakan pikiran dan mesti dicintai hati. Diangkat ke langit untuk menerima perintah salat, Nabi dan pengalamannya mengisyaratkan hakikat salat: sebuah tanda dan tangga menuju Yang Mahatinggi, lima kali sehari, agar terlepas dari diri sendiri, dari dunia, dan dari berbagai ilusi.

Jadi, mikraj adalah lebih dari sekadar sebuah contoh khas pengalaman spiritual; ia penuh dengan nilai penting salat: melalui Firman Tuhan, salat memungkinkan kita membebaskan kesadaran kita dari kungkungan waktu dan tempat, dan sepenuhnya memahami makna hidup dan kehidupan.

* Tariq Ramadan adalah cucu Hasan Al-Banna, penulis Muhammad: Rasul Zaman Kita

-------------------------------------------------
[1] Terdapat perbedaan dalam sumber-sumber klasik tentang kehidupan Nabi menyangkut kronologi peristiwa: kisah tentang Perjalanan Malam terkadang mendahului kisah tentang Tahun Kesedihan.
[2] Pada awalnya diwajibkan lima puluh waktu salat, tapi jumlah tersebut dikurangi menjadi lima setelah permohonan berulang-ulang dari Nabi, atas saran Musa, kepada Tuhan.
[3] Q. 2: 285. Kembali kepada Tuhan merujuk pada gagasan tentang hari akhir dan Hari Pembalasan. Sebuah hadith riwayat Umar ibn al-Khaththab yang dinilai sahih oleh al-Bukhari dan Muslim menyebutkan enam rukun iman (arkân a-îmân) yang membentuk akidah Islam: iman kepada takdir (al-qadr wa-al-qadr) baik dan buruk.
[4] Q. 17: 1.
[5] Q. 53: 4–18.
[6] Ibn Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyah, 2: 256.
[7] Ibadah mencakup kewajiban-kewajiban ritual keagamaan yang dituntut dari semua muslim yang sudah cukup usia, sehat jasmani dan rohani. Mereka terdiri dari syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji.


dibaca: 1441 kali

Sumber: Punerbit Zaman

Share/Save/Bookmark

  • Wawasan Islam Lainnya













Home | About Us | Buku Baru | Buku Laris | Segera Terbit | Katalog | Kabar Terkini | Celah Zaman | Contact | RSS

Copyright © 2009 - 2014 Penerbit Zaman. All Rights Reserved
Redaksi: Jl. Kemang Timur Raya No. 16. Jakarta 12730. Indonesia
Telp: +6221-7199621 (hunting) Fax +6221-7199623, Email: info@penerbitzaman.com